Di tengah hutan lebat di Hawaii, perjuangan untuk bertahan hidup sedang berlangsung. Penelitian baru secara resmi telah mendokumentasikan fenomena yang dikenal sebagai kleptoparasitisme —tindakan seekor hewan mencuri sumber daya dari hewan lain—di antara spesies burung asli pulau tersebut.
Meskipun para peneliti lapangan telah lama mencurigai perilaku ini, sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan di The American Naturalist memberikan bukti pertama yang akurat dan terukur bahwa burung mencuri bahan sarang satu sama lain.
Mekanisme Pencurian
Para peneliti dari Universitas California, Riverside (UCR), memantau lebih dari 200 sarang milik spesies asli penghuni kanopi di Pulau Besar Hawaii. Kajian ini berfokus pada beberapa spesies penting, termasuk apapane, i’iwi, dan Hawai’i amakihi.
Temuan ini mengungkapkan beberapa pola penting mengenai bagaimana dan mengapa “kejahatan” ini terjadi:
- Kedekatan Penargetan: Sebagian besar pencurian terjadi di antara sarang yang terletak pada ketinggian yang sama. Hal ini mendukung “hipotesis tumpang tindih ketinggian”, yang menyatakan bahwa burung mencuri dari sarang yang mereka temui secara tidak sengaja saat mencari makan di lapisan hutan yang sama.
- Pencurian Intra-spesies: Hebatnya, pencurian ini tidak terbatas pada spesies yang berbeda. Apapane, salah satu burung yang paling banyak jumlahnya di hutan ini, sering terlihat mencuri material dari jenisnya sendiri.
- Risiko Berisiko Tinggi: Meskipun mencuri ranting dan serat mungkin tampak seperti cara yang efisien untuk membangun sarang, namun hal ini membawa risiko biologis yang signifikan. Bahan-bahan yang dicuri dapat membawa parasit atau penyakit ke dalam sarang baru, dan tindakan itu sendiri dapat memicu konfrontasi kekerasan antar burung.
Ancaman terhadap Kesuksesan Nest
Meskipun banyak pencurian yang melibatkan sarang yang ditinggalkan, dampaknya terhadap perkembangbiakan aktif merupakan kekhawatiran yang serius. Studi ini menemukan bahwa:
- Gangguan Sarang Aktif: Sekitar 10% pencurian terjadi di sarang yang sedang dibangun atau sudah ditempati oleh telur atau anak ayam.
- Kegagalan Sarang: Pada sekitar 5% kasus yang diteliti, pencurian menyebabkan “kegagalan sarang”, yaitu induk burung meninggalkan lokasinya atau integritas struktur sarang terlalu terganggu untuk melanjutkan aktivitasnya.
Mengapa Ini Penting: Konteks Ekologis yang Lebih Luas
Untuk memahami mengapa perilaku ini memprihatinkan, kita harus melihat tekanan lingkungan yang lebih luas yang dihadapi satwa liar Hawaii. Burung-burung asli ini saat ini terjebak dalam “tekanan” yang disebabkan oleh beberapa faktor yang menyatu:
- Hilangnya dan Fragmentasi Habitat: Ketika hutan dirusak, burung-burung terpaksa tinggal di wilayah yang lebih kecil dan lebih padat.
- Perubahan Iklim dan Penyakit: Nyamuk yang ditularkan oleh manusia membawa avian malaria, sehingga memaksa burung-burung asli untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan lebih sejuk.
Ketika burung-burung ini terdesak ke habitat “pulau-pulau” yang lebih kecil dan berada di dataran tinggi, persaingan untuk mendapatkan sumber daya semakin meningkat. Kepadatan yang berlebihan ini kemungkinan besar mendorong peningkatan kleptoparasitisme. Ketika lokasi dan bahan-bahan untuk bersarang menjadi langka, dorongan untuk mencuri menjadi strategi bertahan hidup—bahkan jika strategi tersebut kadang-kadang mengakibatkan kematian sebuah sarang.
“Perilaku seperti ini bisa lebih umum terjadi jika bahan untuk membuat sarang atau tempat bersarang yang aman menjadi langka,” jelas penulis utama Erin Wilson Rankin.
Kesimpulan
Studi ini menyoroti lapisan tekanan tersembunyi dalam ekosistem yang sudah rapuh. Dengan mengidentifikasi pola pencurian sarang, para pegiat konservasi dapat memprediksi dengan lebih baik spesies dan habitat mana yang paling rentan, sehingga memungkinkan dilakukannya intervensi yang lebih tepat sasaran untuk melindungi populasi burung asli Hawaii yang semakin berkurang.

















