Mewabahnya hantavirus di kapal pesiar MV Hondius telah menyoroti kesenjangan penting dalam keamanan kesehatan global: sementara para ilmuwan hampir mengembangkan pengobatan antibodi yang efektif untuk virus ini, kurangnya dana yang kronis dan jarangnya wabah membuat terapi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk digunakan secara klinis.
Krisis yang terjadi saat ini, yang telah menyebabkan sembilan orang sakit dan mengakibatkan tiga kematian, menjadi pengingat bahwa hantavirus bukan hanya penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat di pedesaan. Jenis virus yang terlibat, yaitu virus Andes, bersifat unik karena dapat menyebar dari orang ke orang. Dengan masa inkubasi yang berlangsung hingga delapan minggu, pejabat kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak kasus yang muncul di antara penumpang yang sudah turun dan kembali ke negara asal mereka.
Perlombaan Medis Melawan Waktu
Saat ini, tidak ada pengobatan antivirus khusus untuk hantavirus. Perawatan medis tetap bersifat suportif, dengan fokus pada hidrasi, istirahat, dan penanganan gejala parah seperti gagal napas. Bagi pasien dengan gangguan pernapasan, hal ini berarti intubasi dan perawatan intensif. Namun, para peneliti secara aktif berupaya mengubah lanskap ini dengan mengembangkan terapi antibodi monoklonal—protein sintetik yang dirancang untuk menetralisir virus sebelum menyebabkan kerusakan parah.
Dua kelompok penelitian terkemuka telah mengidentifikasi kandidat yang menjanjikan:
- Colorado State University: Ahli imunologi Tony Schountz dan timnya telah mengidentifikasi antibodi yang berasal dari sel darah putih manusia yang dapat melawan berbagai jenis hantavirus. Meskipun penelitian pada hewan menunjukkan kemanjuran yang tinggi, tim tersebut kekurangan sumber daya untuk meningkatkan produksi atau melakukan uji klinis pada manusia.
- Universitas Vermont: Penelitian Profesor Jason Botten berfokus pada antibodi yang mengikat glikoprotein permukaan virus, sehingga secara efektif menghalangi virus memasuki sel inang. Mekanisme ini serupa dengan cara pengobatan tertentu menargetkan protein lonjakan SARS-CoV-2.
“Kami memiliki kandidat utama, namun kami tidak memiliki dana sebesar $25 juta hingga $50 juta untuk melanjutkan ke langkah berikutnya,” kata Schountz. “Di situlah orang-orang seperti kita selalu terjebak.”
Jebakan “Penyakit yang Terabaikan”.
Hambatan utama untuk memasarkan pengobatan ini bukanlah kelayakan ilmiahnya, melainkan kelayakan ekonominya. Wabah hantavirus jarang terjadi, sehingga menjadi hambatan bagi pengembangan farmasi:
- Insentif Investasi yang Rendah: Dengan kurang dari 1.000 kasus terkonfirmasi di AS antara tahun 1993 dan 2023, dan hanya sekitar 10.000 kasus di seluruh dunia setiap tahunnya, potensi pasarnya terlalu kecil untuk menarik investasi farmasi swasta.
- Tantangan Uji Klinis: Sekalipun dana tersedia, merekrut pasien dalam jumlah cukup untuk melakukan uji klinis yang signifikan secara statistik hampir tidak mungkin dilakukan pada tahun-tahun tanpa wabah. Di AS, para peneliti mungkin hanya melihat lima kasus dalam setahun, sehingga sulit untuk menguji keampuhannya.
- Kesenjangan Urgensi: Pendanaan cenderung mengikuti perhatian media. Ketika wabah terjadi, minat terhadap penyakit ini akan meningkat dalam waktu singkat, namun begitu krisis ini berlalu, dukungan finansial akan hilang sebelum pengobatan dapat diselesaikan.
Pola ini menjadikan dunia rentan. Meskipun pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa jadwal peraturan dapat dipercepat dalam keadaan darurat, hantavirus tidak memiliki tingkat urgensi politik atau finansial yang sama. Akibatnya, bahkan proses persetujuan yang dipercepat pun akan memakan waktu bertahun-tahun, sehingga wabah saat ini dan di masa depan tidak memiliki pilihan terapi yang spesifik.
Mengelola Wabah Saat Ini
Ketika komunitas ilmiah mendorong solusi jangka panjang, upaya pembendungan segera sedang dilakukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengoordinasikan pemantauan seluruh penumpang MV Hondius.
- Tindakan Karantina: Delapan belas penumpang Amerika saat ini sedang dalam observasi di Pusat Karantina Nasional di Pusat Medis Universitas Nebraska, dan dua orang lainnya di Rumah Sakit Universitas Emory di Atlanta.
- Pelacakan Global: WHO telah mengidentifikasi dan menemukan 34 penumpang yang meninggalkan kapal sebelum wabah terkonfirmasi. Mengingat masa inkubasi yang lama, orang-orang ini tetap berisiko mengalami gejala beberapa minggu setelah pendaratan.
Kesimpulan
Wabah hantavirus di MV Hondius memperlihatkan kesenjangan yang rapuh dalam kesiapan kesehatan global. Meskipun ilmu pengetahuan telah berhasil mengidentifikasi potensi penyembuhan, kenyataan ekonomi dalam mengobati penyakit langka menghalangi inovasi ini untuk menjangkau pasien. Kecuali para pembuat kebijakan dan badan pendanaan menyadari potensi penularan dari orang ke orang dan menciptakan jalur khusus untuk terapi penyakit langka, dunia akan tetap bergantung pada layanan suportif dibandingkan pengobatan spesifik ketika wabah berikutnya terjadi.

















