Melemahnya Aturan Kualitas Udara Akan Merugikan Kesehatan Masyarakat dan Perekonomian

11

Selama lebih dari setengah abad, UU Udara Bersih telah menjadi landasan kesehatan masyarakat dan stabilitas ekonomi di Amerika Serikat. Dengan membatasi polusi berbahaya, hal ini telah mencegah jutaan kematian dini, rawat inap, dan hilangnya produktivitas. Penilaian pada tahun 2011 menemukan bahwa batas polusi yang ditetapkan oleh Undang-undang ini telah menghasilkan manfaat ekonomi bersih sebesar $2 triliun pada tahun 2020, jauh melebihi $65 miliar yang dikeluarkan untuk implementasinya.

Kini, Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) mengubah strategi penegakan hukumnya, meninggalkan praktik penghitungan nilai ekonomi dari peraturan tertentu. Para ahli memperingatkan bahwa perubahan ini kemungkinan besar akan menyebabkan udara menjadi lebih kotor dan dampak kesehatan yang lebih buruk bagi warga Amerika.

“Saya rasa tidak ada orang yang ingin kembali ke… tidak dapat melihat apa pun,” kata Camille Pannu, pakar hukum lingkungan di Universitas Columbia, menyinggung kondisi sebelum Clean Air Act.

EPA tidak lagi menghitung manfaat ekonomi dari pembatasan polutan seperti PM2.5 (bahan partikulat halus) dan ozon dalam beberapa kasus. Sebaliknya, badan tersebut hanya akan berfokus pada dampak yang ditimbulkan terhadap industri, sehingga berpotensi melemahkan dasar pemikiran standar kualitas udara.

Ilmu Pengetahuan di Balik Polusi Udara

Partikel PM2.5, yang lebih kecil dari 2,5 mikron, dapat memasuki aliran darah, merusak paru-paru, dan bahkan mempengaruhi fungsi otak. Paparan telah dikaitkan dengan diabetes, obesitas, demensia, kanker, asma, dan dampak buruk pada kelahiran. Ozon, salah satu komponen utama kabut asap, sangat membahayakan individu dengan gangguan pernapasan, termasuk anak-anak.

Undang-Undang Udara Bersih dirancang untuk mengatasi dampak kesehatan yang mencakup seluruh populasi, dan menyadari bahwa analisis biaya-manfaat yang tidak sempurna sekalipun sangat penting untuk membenarkan peraturan. Tanpa penilaian seperti itu, Pannu berpendapat, “semuanya mahal, dan tidak ada yang layak untuk diatur.”

Ketidakpastian dan Pengawasan

EPA membenarkan perubahan tersebut dengan menyatakan bahwa penghitungan tunjangan kesehatan sebelumnya tidak tepat. Namun, para ahli membantah bahwa ketidakpastian ini melekat dalam ilmu lingkungan namun tidak menghilangkan kebutuhan akan evaluasi. Tujuan awal undang-undang tersebut adalah agar EPA mengatur bahkan dalam menghadapi data yang tidak lengkap.

Penelitian selama puluhan tahun yang membandingkan daerah yang tercemar dan daerah yang lebih bersih, dikombinasikan dengan studi ekonomi yang menghargai kehidupan manusia, telah memberikan dasar yang kuat untuk perkiraan ini. Analisis independen mengkonfirmasi bahwa manfaat dari Clean Air Act jauh melebihi biaya yang dikeluarkan, dan peraturan secara efektif “membayar sendiri” dan bahkan mendanai EPA.

Perolehan Tahun Kehidupan dan Mencegah Kematian

Sejak tahun 1970, amandemen terhadap Clean Air Act telah menghasilkan 336 juta tahun kehidupan di AS. Pada tahun 2020, pembaruan dari tahun 1990 diproyeksikan dapat mencegah 230.000 kematian dini, 75.000 kasus bronkitis, 120.000 kunjungan ke ruang gawat darurat, dan 17 juta hari kerja yang hilang. Sekitar 85% manfaat ini berasal dari pengurangan PM2.5 saja.

Analisis EPA di masa lalu secara konsisten meremehkan biaya regulasi, sehingga menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi saat ini mungkin memiliki tantangan hukum. Badan tersebut secara hukum berkewajiban untuk membenarkan keputusannya dengan data yang transparan.

Cakupan Perubahan

Kebijakan baru ini mungkin tidak hanya mencakup PM2.5 dan ozon, sehingga berpotensi berdampak pada batasan gas rumah kaca dan peraturan mengenai nitrogen dioksida dan sulfur dioksida dari pembangkit listrik. Meskipun ada perubahan, EPA menegaskan pihaknya tetap berkomitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat, meskipun untuk saat ini pihaknya tidak akan “memonetisasi” dampaknya.

Meskipun pemerintahan di masa lalu kadang-kadang melewatkan penghitungan manfaat kesehatan, para ahli menekankan bahwa pengurangan PM2.5 dan ozon adalah salah satu keuntungan lingkungan yang paling mudah diukur.

“Sangat mengecewakan bahwa EPA tidak tertarik untuk membuat keputusan terbaik bagi publik,” kata Rachel Rothschild, pakar hukum lingkungan di Universitas Michigan.

Langkah untuk tidak memprioritaskan dampak kesehatan dalam keputusan peraturan menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan standar kualitas udara dan kesejahteraan jangka panjang masyarakat Amerika.