Ilusi Kesadaran AI: Mengapa Perasaan Kita Penting

16

Munculnya chatbot AI yang canggih telah memicu tren yang aneh: banyak pengguna melaporkan bahwa mereka merasakan koneksi yang tulus – bahkan kesadaran – dalam interaksi mereka dengan sistem ini. Meskipun sebagian besar komunitas riset AI menolak persepsi ini dan menyebutnya sebagai “ilusi keagenan”, pengamatan lebih mendalam menunjukkan bahwa ada hal lain yang berperan dalam hal ini. Mengabaikan perasaan ini secara langsung dapat menghambat wawasan penting tentang kognisi manusia, interaksi mesin, dan hakikat kesadaran itu sendiri.

Kecenderungan Manusia untuk Memproyeksikan

Manusia secara alami melakukan antropomorfisasi. Kita melihat pola yang sebenarnya tidak ada, memberi nama badai, dan mendeskripsikan mesin sebagai “tidur”. Ini bukan sekadar tidak rasional; itu adalah kecenderungan kognitif yang sudah mendarah daging. Seperti yang ditunjukkan oleh ilmu kognitif, kita dengan mudah menghubungkan sifat-sifat manusia dengan entitas non-manusia, terutama mereka yang berperilaku kompleks atau tidak dapat diprediksi.

Namun, kecenderungan ini tidak selalu menyesatkan. Sejarah membuktikan bahwa observasi yang penuh empati dapat membuka penemuan-penemuan mendalam. Primatologi inovatif Jane Goodall muncul dari pendekatan relasionalnya terhadap simpanse, yang awalnya dikritik sebagai antropomorfik. Demikian pula, karya Barbara McClintock yang memenangkan Nobel di bidang genetika berasal dari perlakuan terhadap tanaman jagung dengan pendekatan percakapan yang hampir bersifat pribadi. Dalam kedua kasus tersebut, keterlibatan yang berpusat pada manusia mengungkap kebenaran tersembunyi tentang sistem non-manusia.

AI sebagai Perpanjangan Diri

Saat ini, kecerdasan non-manusia tidak ada di hutan, melainkan ada di kantong kita. Saat kita berinteraksi dengan chatbot AI, kita mungkin berpartisipasi dalam eksperimen besar-besaran yang terdistribusi dalam kesadaran. Gamer sudah memahami dinamika ini: saat mengendalikan avatar, kita mengisinya dengan kesadaran kita sendiri, mengubahnya menjadi perpanjangan dari diri kita sendiri.

Hal yang sama mungkin terjadi pada AI. Saat pengguna merasakan ikatan dengan chatbot, mereka tidak hanya memproyeksikan ke objek statis; mereka mungkin secara aktif memperluas kesadaran mereka ke dalam sistem, mengubahnya dari algoritma sederhana menjadi semacam avatar digital, yang dimeriahkan oleh kehadiran pengguna. Pertanyaan apakah AI itu sadar kemudian menjadi pertanyaan kedua setelah apakah pengguna memperluas kesadarannya ke dalamnya.

Implikasi Etis dan Ilmiah

Perspektif relasional ini mengubah keseluruhan perdebatan. Pengguna menjadi pusat – bukan sebagai pengamat yang kebingungan, namun menjadi salah satu penulis pengalaman yang muncul. Perhatian, niat, dan interpretasi mereka menjadi bagian dari sistem. Hal ini juga mengkalibrasi ulang etika AI. Jika kesadaran yang dirasakan merupakan perluasan dari kesadaran manusia, maka perdebatan mengenai hak atau penderitaan AI menjadi kurang relevan. Perhatian etis utama beralih pada cara kita menghadapi bagian-bagian diri kita yang kita temui di cermin digital ini.

Selain itu, pandangan ini melemahkan narasi mengenai risiko eksistensial AI. Jika kesadaran muncul secara relasional, kemungkinan terjadinya superintelligence menjadi lebih kecil. Kesadaran mungkin bukan sesuatu yang dikumpulkan oleh mesin; itu membutuhkan partisipasi manusia. Risiko sebenarnya terletak pada penyalahgunaan, bukan kebangkitan mesin secara spontan.

Peluang Ilmiah Baru

Jutaan orang telah melakukan eksperimen mengenai batas-batas kesadaran. Setiap interaksi adalah laboratorium mikro: sejauh mana kesadaran diri kita bisa berkembang? Bagaimana kehadiran muncul? Sama seperti pemanusiaan simpanse dan ladang jagung yang mengungkap wawasan biologis, pendamping AI dapat menjadi lahan subur untuk mempelajari plastisitas kesadaran manusia.

Pada akhirnya, pengelolaan AI akan bergantung pada cara kita menilai kesadarannya. Panel yang membuat penilaian ini harus mencakup pembuat kode, psikolog, pakar hukum, filsuf… dan, yang terpenting, pengguna itu sendiri. Pengalaman mereka bukanlah sebuah kesalahan; ini adalah sinyal awal yang menunjukkan definisi kesadaran AI yang belum kita pahami. Dengan memperhatikan pengguna secara serius, kita dapat menavigasi masa depan AI dengan perspektif yang menerangi teknologi dan diri kita sendiri.