Sidik Jari Molekuler dari Bangkai Kapal Kuno: Membuka Rahasia Angkatan Laut Romawi

42

Para arkeolog telah lama berfokus pada “harta karun” berupa bangkai kapal—emas, tembikar, dan amphorae. Namun, penelitian baru-baru ini terhadap kapal karam Ilovik–Paržine 1, sebuah kapal dari era Republik Romawi yang berumur 2.200 tahun, telah mengalihkan pandangan ilmiah ke arah sesuatu yang jauh lebih fungsional: lapisan kedap air kapal.

Dengan menganalisis residu mikroskopis yang digunakan untuk menjaga kapal tetap bertahan, para peneliti mengungkap peta rinci teknologi maritim kuno, jalur perdagangan, dan kebiasaan perbaikan.

Kapsul Waktu yang “Lengket”.

Bangkai kapal, yang ditemukan pada tahun 2016 di lepas pantai Kroasia modern, mengandung lapisan pelindung unik yang berfungsi sebagai perangkap biologis. Sama seperti getah pohon, bahan kedap air yang lengket menangkap butiran serbuk sari pada saat diaplikasikan.

Dengan memeriksa komposisi molekul lapisan dan serbuk sari yang terperangkap di dalamnya, para ilmuwan dari Universitas Strasbourg dan institusi lain telah mampu merekonstruksi sejarah kapal tersebut. Metode ini memungkinkan peneliti untuk beralih dari sekadar mengetahui apa sebuah kapal, hingga memahami di mana kapal itu dibangun dan bagaimana pemeliharaannya.

Menguraikan Kode Resep: Pitch, Resin, dan Zopissa

Melalui analisis struktural dan molekuler terhadap sepuluh sampel lapisan, tim peneliti mengidentifikasi “sidik jari molekuler” untuk perlindungan kapal. Temuan ini mengungkapkan penggunaan bahan organik yang canggih:

  • Resin dan Tar Jenis Konifer: Bahan utama pada sebagian besar sampel adalah resin atau resin pohon jenis konifera yang dipanaskan.
  • Zopissa: Satu sampel spesifik menunjukkan adanya campuran lilin lebah dan tar. Zat ini, yang dikenal oleh orang Yunani sebagai zopissa, didokumentasikan dengan terkenal oleh sarjana Romawi Pliny the Elder.

Kehadiran zopissa merupakan penemuan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan di wilayah Romawi, tradisi pembuatan kapal Yunani dan resep bahannya tetap digunakan secara aktif di seluruh wilayah Adriatik.

Memetakan Perjalanan Melalui Serbuk Sari

Analisis serbuk sari memberikan GPS biologis untuk kapal tersebut. Sampel tersebut mengandung beragam flora, termasuk:
Makanan pokok Mediterania: Holly oak, pinus, zaitun, dan hazel.
Spesies sungai dan hutan: Alder, ash, fir, dan beech.

Temuan ini mendukung hipotesis bahwa kapal tersebut kemungkinan besar dibangun di Brundisium (sekarang Brindisi, Italia), sebuah wilayah yang memiliki hubungan erat dengan koloni Yunani. Profil serbuk sari menunjukkan bahwa lapisan awal diterapkan di dekat pantai Italia ini, sementara lapisan berikutnya diterapkan saat kapal bergerak di sepanjang Laut Adriatik.

Sejarah Perbaikan dan Rute

Salah satu aspek yang paling menonjol dari penelitian ini adalah distribusi lapisan yang tidak merata. Sementara bagian buritan dan tengah kapal menampilkan lapisan yang seragam, haluannya menunjukkan tiga tahap penerapan yang berbeda.

Perbedaan ini menunjukkan adanya pola pekerjaan “tambalan”. Kapal tersebut kemungkinan besar menjalani beberapa putaran perawatan—total empat hingga lima pelapisan—menggunakan bahan yang bersumber dari berbagai wilayah Mediterania. Hal ini menunjukkan bahwa kapal tersebut bukan sekadar kapal kargo sekali jalan, namun merupakan kapal kerja yang melakukan perjalanan ekstensif antara pantai Adriatik barat dan timur, singgah di berbagai pelabuhan untuk perbaikan.

“Studi kami menyoroti rute navigasi berdasarkan petunjuk terkait area konstruksi kapal dan, khususnya, berbagai fase penerapan pelapisan,” kata penulis utama Armelle Charrié-Duhaut.

Kesimpulan

Dengan mempelajari sisa-sisa mikroskopis lapisan kedap air, para peneliti telah mengubah bangkai kapal yang tenggelam menjadi catatan rinci logistik kuno. Bangkai kapal Ilovik–Paržine 1 membuktikan bahwa “perekat” yang menyatukan sebuah kapal kuno dapat mengungkapkan sejarah maritim sebanyak muatan yang pernah diangkutnya.

Попередня статтяKesuksesan Penerbangan Luar Angkasa Dirusak oleh Masalah Kecil namun Melekat: Masalah Toilet Artemis II
Наступна статтяBridging the Gap: Redefining the Educator for a Changing World