Literasi Melampaui Decoding: Mengapa Pemahaman Terlambat bagi Siswa Multibahasa

78

Di seluruh ruang kelas di Amerika, sebuah tren yang meresahkan mulai muncul: siswa dapat memahami kata-kata, namun kesulitan memahami maknanya. Meskipun terdapat kemajuan dalam keterampilan membaca dasar, banyak anak—terutama pembelajar multibahasa dan siswa minoritas—gagal menghubungkan teks dengan kehidupan mereka, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengajaran literasi saat ini.

Kesenjangan Pemahaman Melebar

Data terbaru dari National Assessment of Educational Progress (NAEP) menegaskan penurunan ini. Nilai pemahaman membaca telah memburuk secara nasional, dengan penurunan paling tajam terjadi pada siswa keturunan Afrika-Amerika, Hispanik, penduduk asli Amerika, dan multibahasa. Hal ini terjadi walaupun reformasi “ilmu membaca” yang berfokus pada decoding telah diadopsi secara luas. Paradoksnya jelas: siswa dapat mengucapkan kata-kata, namun mereka belum tentu memahaminya. Hal ini sebagian karena pemahaman membaca memerlukan decoding dan pemahaman linguistik. Pembelajar multibahasa menghadapi rintangan tambahan, karena mereka secara bersamaan mengembangkan keterampilan bahasa sambil mencoba memahami teks yang kompleks.

Mengapa Metode Saat Ini Gagal

Masalah utamanya adalah banyak kurikulum sains membaca dirancang untuk ruang kelas yang monolingual dan homogen secara budaya. Kurikulum tersebut berasumsi siswanya berasal dari latar belakang kelas menengah yang bisa berbahasa Inggris, mengabaikan realitas sekolah yang beragam saat ini di mana lebih dari 5 juta siswanya menguasai multibahasa. Kurikulum-kurikulum ini sering kali tidak memiliki relevansi budaya, sehingga gagal terhubung dengan identitas dan pengalaman siswa. Penelitian menunjukkan bahwa siswa membaca lebih baik ketika teks mencerminkan latar belakang mereka, karena budaya membentuk bahasa lisan yang diperlukan untuk pemahaman.

Teks yang dapat didekodekan, meskipun berguna untuk latihan fonik, sering kali tidak memiliki kosakata yang kaya dan bahasa yang kompleks yang diperlukan untuk pemahaman yang benar. Siswa mungkin berprestasi baik dalam tes decoding tetapi masih tertinggal dalam pemahaman, menegaskan kesenjangan yang semakin besar yang disoroti oleh NAEP.

Solusi Praktis untuk Guru

Guru dapat meningkatkan pemahaman dengan memperluas definisi literasi lebih dari sekedar decoding. Berikut lima strateginya:

  1. Pilih teks yang mewakili budaya. Sastra yang menegaskan identitas siswa meningkatkan pemahaman, motivasi, dan pemikiran kritis.
  2. Prioritaskan membaca dengan lantang. Membaca dengan lantang setiap hari memperkenalkan kosakata yang kaya, memberikan teladan dalam membaca dengan lancar, dan membangun latar belakang pengetahuan bersama – semuanya penting untuk pemahaman. Pilih teks 2-3 tingkat di atas tingkat membaca siswa untuk menantang mereka.
  3. Ajarkan kosakata secara eksplisit. Kembangkan kosakata sebelum, selama, dan setelah membaca, menggunakan visual untuk pelajar multibahasa atau mereka yang berasal dari latar belakang berpenghasilan rendah yang mungkin tidak terbiasa dengan kata-kata dasar. Integrasikan kosakata ke dalam unit tematik untuk latihan berulang.
  4. Gunakan struktur pembicaraan kolaboratif. Bahasa lisan mengembangkan pemahaman. Dorong diskusi bergantian, diskusi kelompok kecil, dan penyelidikan bersama untuk membangun keterampilan linguistik.
  5. Izinkan penerjemahan bahasa. Izinkan siswa multibahasa menggunakan bahasa asal mereka untuk memproses ide, membandingkan konsep, atau mendiskusikan teks – alat kognitif canggih yang didukung oleh penelitian selama puluhan tahun.

Peran Orang Tua dan Masyarakat

Krisis literasi tidak dapat diselesaikan hanya di ruang kelas saja. Orang tua dan mitra masyarakat harus dilibatkan. Inisiatif dengan mengirimkan buku bilingual atau perangkat literasi ke rumah, mengadakan malam literasi keluarga, atau menawarkan bimbingan komunitas dapat meningkatkan pemahaman secara signifikan. Proyek “Buku Bilingual dalam Tas” yang dilakukan seorang guru terbukti berhasil: siswa membawa pulang buku, aktivitas, dan jurnal bilingual untuk dibagikan kepada keluarga mereka, sehingga meningkatkan kemampuan menulis dan pemahaman.

Jalan ke Depan

Untuk benar-benar meningkatkan pemahaman membaca, pendidik harus bergerak melampaui penafsiran ilmu membaca yang sempit dan hanya menggunakan bahasa Inggris saja. Keterampilan dasar itu penting, namun decoding hanyalah permulaan. Anak-anak membutuhkan bahasa lisan, latar belakang pengetahuan, dan hubungan budaya. Membaca bukan hanya tentang mengucapkan kata-kata; ini tentang memberi makna, menghubungkan teks dengan identitas, budaya, dan pengalaman hidup. Masa depan literasi bergantung pada menghargai kemanusiaan seutuhnya dari setiap anak.

Попередня статтяSpaceX Mengalihkan Fokus: Kota Bulan Sebelum Koloni Mars
Наступна статтяKeterampilan Manusia yang Penting Menentukan Masa Depan Kita